Pitaloka Cahaya Ketika langkah kudanya mendekati kaki Pangrango Pitaloka merasa semakin rapat dengan surga Wajah Candrabhaga sang guru kehidupan terang membayang Lima tahun lalu Pitaloka menjadi pemain utama dala

  • Title: Pitaloka: Cahaya
  • Author: Tasaro G.K.
  • ISBN: 9789797931087
  • Page: 364
  • Format: Paperback
  • Ketika langkah kudanya mendekati kaki Pangrango, Pitaloka merasa semakin rapat dengan surga Wajah Candrabhaga, sang guru kehidupan, terang membayang Lima tahun lalu, Pitaloka menjadi pemain utama dalam pengkhinatan besar terhadap pewaris ajaran mulia ini.Hari ini, sang putri datang lagi, membawa perintah Raja Sunda Lenyapkan ajaran mulia atau seribu prajurit Kerajaan SuKetika langkah kudanya mendekati kaki Pangrango, Pitaloka merasa semakin rapat dengan surga Wajah Candrabhaga, sang guru kehidupan, terang membayang Lima tahun lalu, Pitaloka menjadi pemain utama dalam pengkhinatan besar terhadap pewaris ajaran mulia ini.Hari ini, sang putri datang lagi, membawa perintah Raja Sunda Lenyapkan ajaran mulia atau seribu prajurit Kerajaan Sunda menggilas Padepokan Candrabhaga Akan tetapi, Pitaloka tidak peduli Dia datang dengan agenda sendiri.Namun, sebuah konspirasi keji telah menunggunya Rencana jahat yang mengancam nyawa seluruh penghuni Padepokan Candrabhaga Apa pun yang harus dikorbankan, Pitaloka bertekad untuk keluar sebagai pemenang.Mencengangkan, membuat kita tak bisa berhenti sampai lembar terakhir.Shahnaz Haque Ramadhan artis, presenter Mendebarkan, misterius, konspiratif, penuh aksi, kolosal, dan romantis Pitaloka adalah kombinasi yang mematikan.Slamet Parsono wartawan koran Seputar Indonesia Hobi Tasaro mengacak acak realitas dan membombardirkan mimpi mimpinya sebagai realitas baru terpeta cantik dalam novel ini.F.S Kandai Wartawan Jawa Pos Grup

    • Free Download [Religion Book] È Pitaloka: Cahaya - by Tasaro G.K. ✓
      364 Tasaro G.K.
    • thumbnail Title: Free Download [Religion Book] È Pitaloka: Cahaya - by Tasaro G.K. ✓
      Posted by:Tasaro G.K.
      Published :2018-06-25T23:04:24+00:00

    One thought on “Pitaloka: Cahaya”

    1. Keren banget penuturan di novel ini. Penggunaan bahasanya pendek-pendek dan mengalir lancar. Bikin aku gak bis aberhenti bernapas. Penggambaran setting dan visualisasi ceritanya juga detail. Apalagi pas adegan pertarungan pedang Sahnara (Pitaloka) detail. Aku kayak lihat film aja. Penuturan cinta antara Pitaloka dan Elang merah (Purandara) juga halus banget. Tapi kentara kalau Elang Merah menyimpan cinta mendalam. cinta suci nan tulis, bukan sekedar napsu karena kecantikan Pitaloka. Bang, bikin [...]

    2. Saya mencintai sosok Pitaloka yang masih bernama Sannaha di novel ini. Kecantikan yang angkuh, pantang takluk, sarat harga diri, loyal, dan mencintai pengetahuan. Saya hanya bertanya-tanya, apakah guru pedangnya itu benar-benar seorang Muslim, dilihat dari kutipan-kutipan syairnya yang merupakan terjemahan al-Qur'an? Tasaro membaca referensinya di mana?

    3. Masih ingat dengan yang namanya Raja Linggabhuwana atau perang bubat? saya juga ga ingat kok. Dan setelah saya baca buku ini juga ga nambah pengetahuan apa-apa tentang pelajaran sejarah jaman SD/SMP dulu. Siapa itu Linggabhuwana? Siapa itu Pitaloka? Yah, setidaknya sekarang saya tahu kalo Linggabhuwana dan Pitaloka itu orang sunda. Udah. itu aja tambahan sejarah yang saya dapat dari buku ini,heheBeda dengan seri buku Gajah Mada, yang habis baca buku itu sy jadi nyesel kenapa ga dari jaman dulu k [...]

    4. "Sesekali tengoklah surgaPada tamannya yang seluas bumi dan langit, kau tak akan menemukan air mata.Di setiap jengkal tanahnya, kau tak akan menemukan kelelahan dan perkataan sia-sia.Sebuah kisah tentang Diah Pitaloka yang "imajinatif" yang di hadirkan Tasaro. Oh iya, ini buku Tasaro pertama yang saya baca. Terus terang sedikit "tertipu" ketika membaca buku ini. Awalnya saya berekspetasi buku ini bercerita tentang kisah perang Bubat tapi ternyata jauuuuuuuuuh banget. Ini mah buku silat, hadeh. M [...]

    5. Kisah tentang Dyah Pitaloka, putri kerajaan Sunda yang akan dipinang Raja Majapahit. Tapi, novel ini bukan (belum) berkisah tentang intrik-intrik Gajah Mada yang menyebabkan terjadinya Perang Bubat. Fiksinya memang sangat kental. Tentang persentuhan Pitaloka dengan Padepokan Chandrabraga. Tapi asyik dinikmati kok. Tasaro juga lihai menggabungkan sejarah dengan imajinasinya.

    6. Pelajaran sejarah, kata banyak teman saya membosankan. UDah gitu susah diinget.Berlatar sejarah Kerajaan Sunda, novel ini diceritakan dengan sangat apik oleh Tasaro GK. Serius, setidaknya menurut saya :pPenceritaannya mengalir sekali, sisi romantisnya juga kena :DMungkin kalo buku sejarah dibuat seperti novel ini, banyak kali ya yang dapet nilai 100 :D

    7. suka banget sama novel inihistorical fiction yang membawa kita bermain-main di jaman dulunuturan cinta antara Purandara dan Pitaloka juga tidak seperti byasanya,disini dapat dimaknai cinta yang lebih indah*asikhahaover all,saya nggak bosen-bosen baca nih buku.yangnya,sekual belum kelar sampai sekarang.ditunggu nih,,

    8. ini ada lanjutannya ga? seharusnya ada. hasilnya menggantung. tapi tetep ga terlupakan dan keren! saya baca, mm 5tahun yll mungkin? tapi saya tetep ingin perasaan Wah pas baca novel ini. nenek saya juga suka looh

    9. jagoan wanita nih seru !hebat euy si obet bisa menelusuri masa silam. biasanya aq ga begitu suka baca novel yang ada adegan berkelahi2nya. karena lebih asik klo nonton film. malas ngebayanginnya hehehehe

    10. ceritanya keren bangetmeski saya nggak bisa membayangkan jurus-jurus yang diperagakan Sannaha dan tokoh-tokoh lainnya :Dseil.wordpress/2010/03/10/

    Leave a Reply

    Your email address will not be published. Required fields are marked *